Berita

Kisah Haru Tukang Becak Bantaeng Melepas Rindu

BANTAENG – JARRAKPOSMAKASAR.COM – Belasan becak parkir berjajar rapi di sudut jalan Seruni sebelah barat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bantaeng atau tepat bersebelahan dengan Tribun Pantai Seruni. 

Pemandangan tak biasa itu dilakukan para pengayuh tiga roda itu bukan mencari penumpang namun sebagai euforia berlomba menjadi terbaik becak hiasnya.

Lebih dari 10 tahun lomba becak hias di Kabupaten Bantaeng, Sulawesi Selatan tak lagi terdengar. Momentum seru-seruan bagi tukang becak tak lagi eksis sejak periode kedua Azikin Solthan berakhir di tahun 2003. 

16 tahun setelahnya, Ilhamsyah Azikin, generasi ke-3 Solthan menahkodai Bantaeng. Momentum perayaan HUT ke-765 di tahun 2019, lomba becak hias kembali digelar di daerah yang berjuluk Butta Toa ini. Bukan waktu yang singkat untuk merindu bagi sang tukang becak.

Sore itu, kaum milenial tampak berkumpul di sudut jalan Seruni, Kelurahan Tappanjeng, Kecamatan Bantaeng, Kabupaten Bantaeng, mereka berswafoto dengan becak yang dihias oleh para pria paruh baya itu.

Pantas saja, kendaraan tradisional roda tiga milik pria itu tampak apik dengan berbagai hiasan dari sampah daur ulang dan dipadukan dengan warna hitam. Senyum sumringah sesekali terpancar di raut wajah pria yang bernama Abdul Hamid. 

Tak henti-hentinya ia bergaya di depan kamera, bahkan ia meminta agar foto yang telah dikutip dari handphone itu untuk dicetak supaya ia bisa memajang di rumahnya.

Saat itu, Minggu, 1 Desember 2019. Usai pembukaan Festival Budaya bakal dilakukan penjurian terhadap becak hias. Namun ternyata ada penundaan dari panitia dengan alasan efisiensi waktu. 

Peserta lomba harus menunggu beberapa hari ke depan. Selang setengah jam setelah mendapat pemberitahuan itu, Abdul Hamid pun bertolak menuju kediamannya. Raut wajahnya tampak kekecewaan, tetapi kecewa itu tak lebih besar dari hilangnya gelaran lomba becak hias sejak 15 tahun lalu.

Selang beberapa hari, tepatnya Rabu, 4 Desember 2019, Tagar menyambangi kediamannya. Cukup mudah untuk menemuinya. Ia tinggal bersama istri dan putra bungsunya di sebuah kamar indekos yang tak lebih lebar dari lapangan bulutangkis. Terletak di perbatasan kelurahan Letta dan Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, atau tepatnya din Jalan Sungai Calendu. 

Mata pria ceking itu mulai terpejam, kerutan di dahinya kian nampak diikuti gerakan kepala yang tertunduk. Sepertinya ia berusaha mengingat, menggali semua ingatannya tentang kejayaan ketika berkali-kali memenangkan lomba-lomba becak hias di daerah yang terbilang kecil di wilayah Sulawesi Selatan ini.

Beberapa menit setelah itu, ia kembali mengangkat kepalanya, lalu perbincangan dilanjutkan di dalam ruangan. Tak ada kursi di dalam, pantas saja ia membawa masuk kursi plastik dari teras. 

“Assalamu’alaikum,” kataku sambil membawa kursi plastik dari terasnya. “Wa’alaikumsalam,” jawabnya sambil membenarkan kursi plastik yang dibawanya masuk. Kami duduk, ia duduk tepat di samping gorden pembatas ruang tamu dan kamarnya bersama istri, sekaligus menjadi dapur, oh iya, ada juga sepetak toilet di sana. Sementara saya duduk tepat di sebelah kanannya dekat dengan pintu masuk.

Seolah ingin menggali lebih dalam lagi ingatannya, namun ia cukup kesulitan atas pertanyaan yang kusodorkan, “Kapan pertama kali bapak mulai hias becak?”.

Pak Hamid, begitu ia akrab disapa, mulai berdiri, merengkuh sebuah album foto lawas dari rak meja televisi tabung 16 inch di ruang tamu yang juga kamar bagi putra bungsunya. Lembaran demi lembaran ia perhatikan dengan seksama. 

Satu persatu foto ia tunjukkan, hingga akhirnya sebuah potret tua ia perlihatkan, sebuah becak yang dihias menyerupai rumah adat, terlihat properti bambu runcing dan bendera Indonesia di depan rumah adat itu. 

Sayangnya ia lupa di mana lokasi saat itu, yang pasti bahwa lomba becak hias tersebut berlangsung pada 5 Oktober 1983, ketika H Said Saggaf memimpin Bantaeng di periode keduanya.

“Ah ini yang pertama ini, 5 Oktober 1983,” kata Hamid seakan ingatannya mulai jelas saat dijumpai Tagar pada Rabu malam, 4 Desember 2019.

Becak Bantaeng
Becak Bantaeng

Becak Hamid saat parkir di pantai Seruni, Minggu, 1 Desember 2019. Saat ini Hamid tinggal di perbatasan kelurahan Letta dan Kelurahan Mallilingi, Kecamatan Bantaeng, atau tepatnya din Jalan Sungai Calendu. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Lain Bupati, Lain Cerita

Hamid tidak bermaksud untuk membanding-bandingkan, tetapi bagi seorang yang aktif dan kerap menjuarai berbagai perlombaan becak hias di periode Azikin Solthan sebagai Bupati Bantaeng, hal itu kata Hamid sangat terasa berbeda ketika di zaman Nurdin Abdullah sebagai bupati yang bahkan tak pernah ada sayembara-sayembara becak hias itu. 

Entah mengapa, ia semakin cekatan dalam membahasakan di masa Azikin Solthan, tentunya bukan pernyataan yang diplomatis sebab kali ini Bupati Bantaeng adalah putra Azikin Solthan. Perbincangan semakin serius tentang lomba-lomba yang digemarinya itu terus berlangsung di masa putra Solthan memimpin daerah yang seluas 395,8 kilometer persegi ini.

“Kalau pak Bupati H said Saggaf cuma sekali saya ikuti. Yang paling menonjol becak hias di zamannya pak Azikin, karena setiap tanggal di bulan-bulan penting atau hari-hari peringatan, kayak tanggal 2 Mei ada, bahkan waktu peringatan Korpri ada, Hardiknas, 5 Oktober, 10 November ada semua (lomba hias becak) waktunya pak Azikin (menjabat Bupati),” sebut Hamid, mengabsen satu persatu hari-hari kebesaran seolah ada cerita tersendiri baginya.

Selain itu, ia juga pernah mengikuti perlombaan serupa yang digelar oleh Komitee Nasional Pemuda Indonesia (KNPI) Kabupaten Bantaeng dan Himpunan Pelajar Mahasiswa Bantaeng (HPMB). Hanya saja ia lupa kapan tepatnya perlombaan itu berlangsung, tetapi yang pasti bahwa hal itu masih di era kepemimpinan Azikin Solthan.

Tahun demi tahun ia lalui dengan penuh khidmat, lomba-lomba hias becak ia sering ikuti dan menjadikannya juara. Tiba masa kepemimpinan di Bantaeng berganti, Nurdin Abdullah dinobatkan untuk membawa arah dan menentukan kebijakan di daerah yang berbatasan dengan kabupaten Jeneponto dari arah Kota Makassar ini.

Abdul Hamid dan sejumlah rekan seprofesi pengayuh becak masih dalam dekapan euforia lomba yang mengasah kreatifitas itu. Namun sangat sayang dalam rentang waktu 2008 hingga 2013 atau periode pertama Nurdin Abdullah sebagai Bupati, upaya menunggu dari Pak Hamid dan rekan-rekannya berujung sia-sia dan tak membuahkan hasil. Pak Hamid mengaku kalau kuas, properti, alat dekor dan perkakas lain akhirnya digantung begitu saja. Tetapi itu tak menyurutkan semangatnya. ia masih berharap perlombaan becak hias kembali ada.

Memasuki periode kedua Nurdin Abdullah sebagai bupati, semula Hamid masih berharap kalau lomba menguji ketangkasan dalam mendekorasi becak itu akan ada, meski hanya sekali. 

Tetapi lagi-lagi tak ada harapan baik di sana. Lomba becak hias itu tak pernah lagi digaungkan sampai Nurdin Abdullah kini menjadi Gubernur Sulawesi Selatan. Eksistensi Pak Hamid sebagai juara lomba becak perlahan lenyap, di tahun-tahun setelahnya ia tak pernah lagi mengharap untuk itu.

Akhirnya Hamid dan istrinya memutuskan untuk menjual Songkolo, makanan yang berbahan dasar beras ketan putih. Nyambi jadi penjual Songkolo adalah keputusan yang tepat dalam menghasilkan pundi-pundi rupiah tambahan di keluarga sederhana itu.

“Apalagi anak pertama ku lagi kuliah di UMI. Perempuan, ngekos juga di Makassar. Apalagi perempuan, saya paham betul kebutuhan anak perempuan, mana bedaknya, gincunya, tas, sepatu, baju. Belum uang jajan, SPP, buku dan lain-lain. Sementara penghasilanku tidak seberapa. Tapi kalau bicara soal pendidikan, apapun kulakukan,” tegas pria kelahiran 1968 ini.

Ia melanjutkan ceritanya tentang lomba becak hias. Bupati Bantaeng saat ini, tersemat nama Azikin. Di ingatannya masih terbayang akan masa kepemimpinan Azikin Solthan tentang lomba-lomba yang kerap diadakan, terlebih yang kerap Hamid juarai yakni becak hias.

“Sebenarnya di 17 Agustus baru-baru ini, sudah Ku persiapkan cat, kalau-kalau ada lagi lomba becak hias. Tapi ternyata tidak ada, jadi itu cat yang ku beli, sembarang ku cat tembok di kos ini,” tuturnya.

Harapan Hamid sempat pupus namun tidak keseluruhan. Ia terus bertabayyun hingga sewaktu ketika ia mengantar dagangan istrinya, seorang pembeli memberikan informasi lomba becak hias itu ada lagi di era Ilham Azikin. 

Hamid mulai risau, setiap hari ia berkeliling mencari tahu kebenaran kabar itu, hari demi hari ia lalui dengan bertanya di berbagai pihak. Termasuk kepada rekan seprofesinya, namun ia baru mengetahui tentang lomba itu pada pertengahan November 2019, ketika sedang mengunjungi tempat mangkal para tukang becak di persimpangan Kalimbaung, Kelurahan Mallilingi. Di lokasi yang tak jauh dari kediamannya itu, secercah harapan kembali mendatangi dirinya.

“Ku kasi makan ki Songkolo, baru tanya-tanya bilang adakah itu lomba hias becak?, akhirnya ada yang menjawab bilang ada,” katanya. Namun ia tak langsung memercayai rekannya itu. Pak Hamid meminta bukti. Disodorkanlah kepadanya secarik kertas yang bertuliskan formulir.

Kebahagiaan pak Hamid berlipat ganda ketika ia diberikan secara cuma-cuma formulir itu dari rekannya. Semula ia berpikir untuk langsung mendatangi Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Bantaeng, berdasarkan kop surat isian itu untuk mengisi di sana.

Tanpa menunggu waktu lama, ia juga sudah tak memikirkan berapa Songkolo yang dilahap rekannya, Pak Hamid pulang cepat-cepat untuk mengambil sebuah pulpen lalu mengisi form. Nama, alamat dan nomor Handphone ditulisnya. Ia mengembalikan secarik kertas itu tepat lima hari atau pada Selasa, 26 November 2019 sebelum Festival Budaya dibuka secara resmi pada 1 Desember 2019 kemarin. Dirinya menjadi peserta pertama yang mendaftar dari belasan peserta lomba becak hias.

Becak Bantaeng
Becak Bantaeng

Pak Hamid dan becaknya saat parkir di pantai Seruni, Minggu, 1 Desember 2019. Hamid pernah ikut lomba becak hias pada 5 Oktober 1983, ketika H Said Saggaf memimpin Bantaeng di periode keduanya. (Foto: Tagar/Fitriani Aulia Rizka)

Makna di Balik Hiasan Becak

Di waktu yang relatif singkat itu, hanya lima hari untuk mendekorasi becak agar layak mengikuti lomba. Pak Hamid cukup telaten melihat tema yang diperlombakan. Ia sempat terharu sesaat di usianya yang cukup tua namun masih bisa mengikuti lomba yang diinginkannya sedari dulu.

Pak Hamid tak ragu untuk menggelontorkan dana hingga Rp. 500 ribuan hanya untuk mendekorasi becaknya, padahal uang itu merupakan modal bagi istrinya untuk membuat Songkolo. Tanpa lama berpikir, ia kemudian melihat tema yang diperlombakan. “kulihat tema untuk diperlombakan, intinya budaya dan daur ulang,” sebut pria berpostur ceking ini.

Akhirnya dia mulai dengan membeli cat, memungut botol dan gelas plastik, meminta karung semen di pekerja bangunan. ia juga cukup jeli melihat apa yang ada di sekitarnya, tak ragu untuk meminta bekas-bekas dekorasi seperti pita dan kembang-kembang yang nyaris terbuang. Tak tanggung-tanggung ia bahkan meminta itu di tempat-tempat ibadah. 

“Ada juga kuminta di mesjid bekas perayaan maulid, di belakang kantor lurah di tempat sampahnya ada juga kudapat, itu semua kupakai,” terang Bapak yang pernah bergelut di perkumpulan Remaja Kreatif Bantaeng – Be’lang (RKB) ini.

Perlahan dijelaskannya, ada makna yang tersirat pada dekorasi becaknya. Mulai dari warna merah yang melambangkan keberanian, hitam cenderung bermakna kedalaman sebuah ilmu pengetahuan dan pengalaman. Hingga susunan gelas serta botol plastik di sisi kiri dan kanan becak itu dipaparkan secara detail.

“Gelas plastik bekas minuman ringan yang menyerong ke atas pertanda masyarakat kecil juga bisa meningkatkan taraf ekonomi melalui penjualan sampah plastik, kan ada itu sekarang bank sampah. Ada juga botol plastik bentuknya naik turun ini menandakan kehidupan itu kadang naik kadang juga turun, yah namanya kehidupan. Jadi hampir semua ini ku pungut semua, kecuali cat sama beberapa ini gabus (styrofoam) sama Baju Bodo (pakaian adat Bugis-Makassar). Kalau ini dekorasi batu kuminta dari tukang yang kerja rumah dari pembungkus semen ini baru ku cat warna hitam,” imbuhnya.

Semuanya sudah rampung, becak hiasan miliknya siap dipertunjukkan di muka umum. Tepat tanggal 1 Desember 2019, ia dan peserta lomba lainnya sangat percaya diri tampil di Tribun Pantai Seruni Bantaeng. Namun sialnya penilaian tepat pada 1 Desember itu ditunda sampai pada Kamis, 5 Desember 2019.

Malam semakin larut, nampaknya ia cukup letih menikmati sepanjang hari dengan berkeliling menggunakan becak hiasnya di emperan kota. Meski sebenarnya ia tak bisa memejamkan mata, menunggu esok hari untuk penilaian. Kami berpisah, harap-harap cemas bisa berjumpa lagi esok dan keesokan harinya lagi.

Pada 7 Desember, puncak perayaan HUT Bantaeng ke-765, di Gedung Balai Kartini, kami kembali bertemu, meski tak bertatap mata langsung. Pak Hamid bersama dua pengayuh becak lainnya dinobatkan sebagai pemenang. Mereka diganjar hadiah sebesar Rp 1.500.000, untuk juara kedua sebesar Rp 1.250.000 dan juara ketiga senilai Rp 1 juta, beserta piala dan piagam masing-masing.

Jerih paya Pak Hamid untuk menunggu bertahun-tahun membuahkan hasil. Ia kembali meraih juara 1 lomba becak hias itu. Istrinya, Sitti Nurlaela terenyuh, melihat sang suami sekaligus bapak dua anak, kembali mengangkat tropi juara sejak lebih dari 10 tahun silam.

Seberkas Harapan bagi Putra Azikin Solthan

Bupati Bantaeng kini dijabat oleh generasi ke-3 Solthan. Ya, Ilhamsyah Azikin. Putra dari Azikin Solthan atau cucu dari H Solthan. Bagi pak Hamid, ada seberkas harapan yang ditawarkan kepada Ilham Azikin. Sebagai masyarakat kecil, terlebih pak Hamid seorang tukang becak.

Hamid sangat berharap sekiranya Ilham Azikin mampu menghidupkan kembali gelaran-gelaran serupa, Pesta Rakyat yang didalamnya dihadirkan lomba becak hias sebagaimana yang dihadirkan Azikin Solthan kala itu.

Sekali lagi malam terlalu larut, Pak Hamid tak sempat memadu kata lagi denganku, lagipula kesenangannya tak harus direnggut dengan wawancara sejumlah awak media. Keluarganya pasti menunggu, menunggu kabar gembira bahwa dirinya kembali meraih juara.

Sembari mengangkat tangannya, ia melihatku dari kejauhan, entah sapaan itu untuk saya atau di sebelahku, tetapi pastinya senyum indah nan bahagia tergambar di pipinya yang kian membengkak.

(Dikutip dari www.tagar.id)

Editor : Uta

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Close